Suara Tertinggal, Hasyim Muzadi Tinggalkan Arena Penghitungan Suara

Saturday, March 27, 2010

Muhammad Nur Hayid - detikNews
Makassar - Di tengah penghitungan suara pemilihan Rais Aam, KH Hasyim Muzadi meninggalkan ruang pemungutan suara di Gedung Mudzdalifah. Saat Hasyim keluar, suara muktamirin lebih banyak memilih KH Sahal Mahfudh.

Saat meninggalkan ruangan, sambil disalami beberapa pendukungnya, Hasyim menolak dimintai komentar.

"Lihat saja dulu hasilnya, saya tidak mau wawancara dulu," kata Hasyim sambil berlalu di lokasi di Aula Asrama Haji, Makassar, Sabtu (27/3/2010).

Sementara, KH Sahal tidak berada di lokasi saat penghitungan. Sahal memilih berdiam diri di salah satu ruangan di sebelah Gedung Mudzdalifah. Demikian juga dengan KH Maimun Zubair yang meninggalkan lokasi sebelum perhitungan dimulai.

Suasana perhitungan cukup meriah. Para pendukung saling memberikan dukungan saat jagonya disebut. Ada yang berteriak 'huuu' dan Allahuakbar.

Hasil perhitungan sementara, KH Sahal memimpin dengan 200 suara. Sementara, KH Hasyim Muzadi tertinggal dengan 100 suara. Perhitungan masih berlangsung. Kiai Sahal adalah pemimpin ponpes Maslakhul Huda, Pati, Jateng.

(yid/mad)
Read More...

'Operasi Senyap' Jelang Pemilihan Rais Am


Muhammad Nur Hayid - detikNews
Makassar - Malam menjelang pemilihan Rais Am PBNU benar-benar sibuk. Beberapa kiai baik
yang menjadi calon Rais Am ataupun yang punya hak suara melakukan pertemuan dan pembicaraan.

Sekitar pukul 01.30 WITA salah satu tokoh senior NU KH Habib Luthfi asal Pekalongan menemui KH Hayim Muzadi. Tidak tahu apa yang dibicarakan, sebab, keduanya melakukan pertemuan 4 mata.

"Benar, memang semalam beliau berdua bertemu. Tapi saya tidak tahu apa yang
dibicarakan, karena pertemuannya hanya berdua," kata salah satu orang dekat Hasyim Muzadi, Masduki Baidlowi kepada detikcom di sela-sela pemilihan Rais Am di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sabtu (27/3/2010).

Menurut Masduki, sebelum bertemu Habib Luthi, siang harinya, (Jumat, 26/3)
Hasyim juga bertemu dengan KH Maimun Zubair. Agenda pertemuan 2 kiai ini juga tidak diketahui pasti, namun diyakini tidak akan jauh-jauh dari soal posisi Rais Am yang akan diperebutkan siang ini.

"Siangnya, Pak Hasyim juga bertemu Mbah Mun, tapi saya juga tidak tahu ada
kesepakatan apa diantara keduanya, yang pasti bersilaturahmi," terangnya.

Sementara, para kiai sepuh lainnya pada Jumat sore (26/3/2010) diberitakan
melakukan pertemuan di kediaman kiai sepuh asal Makassar KH Sanusi Baco.
Pertemuan yang dihadiri oleh KH Sahal Mahfudz, KH Mustafa Bisri, KH Maimun
Zubair, KH Ma'ruf Amien,KH Maghfur Usman, KH Tholchah Hasan, Prof Khotibul Umam, KH Asnawi Latif dan beberapa lainnya ini direncanakan untuk membahas soal bagaimana sebaiknya muktamirin menyikapi kerasnya pertarungan memperebutkan Rais Am.

KH Hasyim Muzadi juga ikut diundang dalam pertemuan itu, namun memilih tidak
hadir karena menduga pertemuan tersebut bisa menghalangi langkahnya karena ada isu pertemuan itu untuk menetapkan ahlul halli wal aqdi (pemilihan Rais Am oleh para senior NU). Beberapa hal yang ternyata belum dirancang secara matang dalam pertemuan itu menjadikan kesepakatan ahlul halli wal aqdi menjadi tidak dapat dicapai.

"Memang ada upaya untuk menjadikan kesepakan ahlul halli wal aqdi, tapi gagal, karena tidak dirancang dengan baik. Apalagi di Komisi Organisasi sedang diselesaikan rumusan AD ART yang salah satunya membahas soal cara pemilihan Rais Am," papar Masduki.

Akibat gagalnya upaya memilih Rais Am secara musyawarah mufakat, Jumat malam
masing-masing tim melakukan lobi terakhir kepada para muktamirin. Tim kiai KH Sahal Mahfudz yang memang sejak lama sudah memastikan ikut berkompetisi
memperbutkkan posisi Rais Am demi mengawal NU agar tidak terseret ke politik
praktis memantabkan lobi-libi dan pendekatan kepada muktamirin.

Demikian halnya dengan tim KH Hasyim Muzadi, dengan pendekatan terbuka maupun tertutup juga melakukan finalisasi dukungan terhadap Hasyim. Sementara Tim KH Maimun Zubair juga demikian halnya. Mbah Mun yang merupakan Ketua Majelis Syariah di PPP dikabarkan didukung oleh tim dari PPP.

"Semalam semua melakukan konsolidasi akhir. Semua tim sukses calon Rais Am
melakukan finalisasi dukungan untuk menghadapi pemilihan saat ini," terang
sember detik yang tidak mau disebutkan namanya.

Pantauan detikcom di lokasi muktamar, pemilihan Rais Am sudah dimulai dengan
tahap penjaringan bakal calon. Acara pemilihan yang dimulai sejak pukul 11.00 WITA ini akan memilih calon Rais Am yang akan dipilih dalam babak selanjutnya jika memperoleh minimal 99 suara dari muktamirin. Hal ini sesuai dengan tata tertib pemilihan yang mensyaratkan, kandidat Rais Am bisa maju ke babak pencalonan kalau mendapat dukungan minimal 99 suara dari 503 suara.

Saat ini, pimpinan sidang pemilihan sedang menghitung jumlah surat suara hari hasil pencontrengan. Sementara pengurus Syuriah NU yang memiliki hak suara terlihat ada menunggu di dalam sambil melihat penghitungan kertas suara, dan ada pula yang keluar ruangan yang memang panas karena tidak berAC untuk makan siang dan sholat duhur. Rencananya, pukul 14.00 WITA akan dilakukan penghitungan suara.
(yid/mad)
Read More...

KH Maimun Zubair: Tanpa Fulus, Saya Lebih Afdol Dipilih Jadi Rais Aam


Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews

Makassar - Menjelang pemilihan Rais Aam PBNU, gerilya para kandidat hampir mencapai puncaknya. Banyak pihak yang mencurigai adanya permainan politik uang dalam proses pemilihan ketua dewan syuriah PBNU, seperti yang dilontarkan oleh Lily Wahid, yang menyamakan Muktamar NU di Makassar dengan muktamar di Cipasung tahun 1994 lalu, yang sarat akan campur tangan penguasa.

Meski demikian, tidak semua kandidat rela larut dalam permainan politik uang tersebut. KH Maimun Zubair, contohnya. Kiai sepuh NU yang berasal dari Sarang, Jawa Tengah, mengakui dirinya siap dicalonkan sebagai Rais Aam meski tanpa dukungan dana kampanye yang memadai dan tim sukses yang melakukan pendekatan pada para muktamirin.

"Saya dicalonkan lillahi ta'ala, meskipun tanpa fulus dan tim sukses, tapi kalau muktamirin memilih saya itu lebih afdol," pungkas kiai yang akrab disapa Mbah Mun ini , saat ditemui detikcom di salah satu ruangan di arena Muktamar NU di Makassar, Sabtu (27/3/2010).

Awalnya, Mbah Mun mengakui tidak mau ikut dalam bursa pencalonan Rais Aam. Namun, atas desakan dari para muridnya yang tersebar di mana-mana dan opini muktamirin, Mbah Mun pun mengiyakan dan bersedia jika dicalonkan oleh para Muktamirin. Meski tidak disokong dana kampanye yang mumpuni, ia lebih percaya pada pergerakan murid-muridnya.

Jika benar terjadi, Mbah Mun menyayangkan adanya permainan politik uang dalam muktamar kali ini. Ia menganggap permainan politik uang untuk seharusnya tidak perlu terjadi di kalangan warga NU.

Jika nanti ia terpilih sebagai Rais Aam, Mbah Mun berencana mengembalikan kejayaan NU sebagai sumber pencarian ilmu-ilmu agama bagi umat, seperti di tahun 1955, sebelum NU terjun ke dunia politik. "Yang utama adalah kembali ke khittah dan kembali memurnikan, murni yang mengandung keikhlasan, amal dan usaha," tandas Mbah Mun.
(mna/mad)
Read More...
banner125125 d'famous_125x125 ads_box ads_box ads_box